Saya selalu kagum dengan mereka yang bisa “curi start”. Saat orang lain masih terlelap—mungkin ada yang sedang asyik bermimpi jadi miliarder atau sekadar mimpi makan enak—ada sekelompok orang yang sudah bangun. Mereka bukan mau mengejar diskon pagi hari. Bukan pula mau lari maraton.
Mereka sedang mengetuk pintu langit.
Shalat malam. Tahajud. Namanya saja sudah mengandung unsur “perjuangan”. Dalam bahasa Arab, hajada itu artinya tidur. Tahajjada? Berupaya bangun dari tidur. Ada usaha keras di sana. Melawan gravitasi kasur yang paling kuat justru di jam tiga pagi.
Allah SWT memberikan janji yang tidak main-main bagi yang kuat melawan kantuk ini. Bukan sekadar pahala, tapi posisi. Kedudukan. Tempat yang terpuji.
Lihatlah firman-Nya dalam Surat Al-Isra’ ayat 79:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
Wa minal-laili fa ta-hajjad bihi nafilatal laka ‘asa ay yab’atsaka rabbuka maqamam mahmuda.
Artinya: “Dan pada sebagian malam hari shalat Tahajud-lah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79).
Kenapa harus malam? Kenapa tidak siang saja saat kita segar bugar?
Rupanya, malam punya rahasia. Ada “jam operasional” khusus di mana Allah SWT memberikan akses langsung tanpa perantara. Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa waktu itu ada setiap malam. Bukan seminggu sekali. Bukan setahun sekali saat malam Lailatul Qadar saja. Tiap malam!
Dalam hadist riwayat Muslim, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ، يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
Inna fil-laili lasaa’atan laa yuwaafiquhaa rajulun muslimun, yas’alullaaha khairan min amrid-dun-yaa wal-aakhirati, illaa a’thaahu iyyaahu, wa dzaalika kulla lailah.
Artinya: “Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat. Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan di dunia maupun di akhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” (HR. Muslim).
Bahkan, ada suasana romantis sekaligus spiritual yang diajarkan Nabi. Ibadah ini tidak melulu soal individu. Tapi soal kekompakan suami-istri. Nabi menyarankan kita untuk saling membangunkan. Kalau suami agak “ngeyel” saking nyenyaknya, boleh dipercikkan air sedikit ke wajahnya. Begitu juga sebaliknya.
Bayangkan, sebuah rumah tangga di mana jam tiga pagi suasananya bukan rebutan selimut, tapi rebutan saf shalat. Allah sayang sekali pada rumah tangga model begini (HR. Abu Daud).
Lalu, apa “keuntungannya”?
Kita ini manusia yang sering kali kalkulatif. Apa untungnya buat saya kalau kurang tidur? Rasulullah SAW merinci ada 9 kemuliaan bagi mereka yang tertib menjaga Tahajudnya. Lima di dunia, empat di akhirat.
Di dunia:
- Dijaga dari bencana. Ini asuransi dari langit.
- Wajah yang berwibawa. Tanda ketaatan itu muncul di muka, bukan karena bedak mahal.
- Dicintai orang shaleh. Frekuensi batinnya nyambung.
- Lidahnya berhikmat. Ucapannya berisi, tidak asal bunyi (asbun).
- Menjadi bijaksana. Diberi pemahaman agama yang dalam.
Di akhirat:
- Wajah berseri saat bangkit dari kubur.
- Hisab yang ringan. Siapa yang tidak mau cepat lolos dari pemeriksaan administratif di akhirat?
- Menyeberangi Shirotol Mustaqim secepat kilat. Seperti halilintar.
- Menerima rapor (catatan amal) dengan tangan kanan. Simbol kesuksesan mutlak.
Dalam sebuah hadist Qudsi yang sangat populer, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW menceritakan bagaimana Allah “turun” ke langit dunia:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
Yanzilu Rabbunaa tabaaraka wa ta’aalaa kulla lailatin ilas-samaa’id-dun-yaa hiina yabqaa tsulutsul-lailil-aakhiru yaquulu: Man yad’uunii fa astajiiba lahu, man yas-alunii fa u’thiyahu, man yastaghfirunii fa aghfira lahu.
Artinya: “Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun (ke langit dunia) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman: ‘Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaannya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Logikanya begini: Kalau kita mau minta tolong pada presiden, tentu sulit. Harus lewat protokol, jadwal padat, dan keamanan ketat. Tapi ini “Presidennya Alam Semesta” yang justru “turun” mencari siapa yang mau minta tolong. Dan Dia melakukannya setiap sepertiga malam terakhir.
Aneh kalau kita punya masalah, tapi kita malah melewatkan jam operasional VIP ini.
Mari kita coba. Malam ini. Pasang alarm. Kalau tidak bangun juga, minta pasangan percikkan air. Kalau masih tidak bangun? Mungkin bantal kita perlu didoakan juga agar tidak terlalu betah memeluk kepala kita.
Selamat menjemput kemuliaan di sisa malam.

Leave a Reply